A.
Latar Belakang
Masalah
Madrasah
diartikan sebagai tempat belajar bagi siswa atau mahasiswa (umat Islam).
Istilah madrasah tidak hanya diartikan sekolah dalam arti sempit akan tetapi
bisa dimaknai rumah, istana, kuttab,
perpustakaan, surau, masjid dalain sebagainya. Makna madrasah dalam sejarah
pendidikan Islam memiliki peran penting sebagai institusi belajar umat Islam
selama pertumbuhan dan perkembangannya sebab pemakaian kata madrasah secara
definisi baru muncul pada abad 11M.[1] Ini bertepatan dengan
berdirinya madrasah Nizamiah yang menurut banyak ahli meskipun tidak semuanya
tetapi sebagian besar yang mangatakan bahwa madrasah ini sebagai madrasah
pertama yang berdiri pada masa Islam.
Adanya
madrasah ini memberikan pengetahuan besar tentang bagaimana penerapan
administrasi, kurikulum dan guru serta sistem-sistem yanng lainnya pada
pendidikan Islam pada masa dahulu khususnya pada madrasah yang beraliran sunni karena
pada masa ini penerapan sistem-sistem di atas telah ada dengan tersusun secara
baik.
Oleh
karenanya, dengan keunikan-keunikan yang ada di madrasah pada masa lampau,
penulis tertarik mengintip kembali pembahasan tentang “Madrasah Nizamiah”.
Pembahasan ini akan dapat memberikan pengertian baru tentang sejarah
pertumbuhan dan perkembangan madrasah pada jaman Islam dahulu khususnya pada
madrasah Nizamiah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah latar belakang berdirinya madrasah?
2.
Bagaimana sejarah pertumbuhan madrasah Nizamiyah?
3.
Bagaimana penerapan sistem madrasah Nizamiyah?
4.
Bagaimana pengaruh adanya madrasah Nizamiyah terhadap sosial
kemasyarakatan?
C.
Tujuan Masalah
Agar mahasiswa paham
mengenai:
1. Latar belakang berdirinya
madrasah.
2. Sejarah pertumbuhan madrasah
Nizamiyah
3. Penerapan sistem dalam
madrasah Nizamiyah
4. Pengaruh adanya madrasah
Nizamiyah terhadap sosial kemasyarakatan
A. Latar
Belakang Berdirinya Madrasah
Pada
pertengahan abad kedelapan Masehi atau abad kedua Hijriyah, merupakan masa-masa
keemasan Islam (The Golden Ages of Islam). Kondisi ini berlangsung pada
masa kekhalifahan Islam di bawah kekuasaan dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M).
Saat itu, dua per tiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Selain
itu, tradisi keilmuan berkembang pesat. Berbagai sumber menyebutkan, masa
kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadi
pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid. Dia adalah khalifah Dinasti Abbasiyah
yang berkuasa pada 786 M hingga 809 M.
Salah
satu puncak pencapaian yang membuat nama Khalifah Harun al-Rasyid melegenda
adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada masa
kepemimpinannya, terjadi penerjemahan sejumlah karya dari berbagai bahasa.
Inilah yang menjadi titik awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia
dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada era itu pula, beragam disiplin ilmu
pengetahuan dan peradaban mulai berkembang. Perkembangan tersebut berkat
dorongan pemerintah saat itu yang menyediakan berbagai fasilitas dan memberikan
kebebasan intelektual para siswanya.
Pengembangan
ilmu pengetahuan pada masa itu dilakukan dengan beberapa cara. Pertama,
dilakukan penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, Suriah, dan India ke dalam
bahasa Arab. Ribuan buku yang diambil dari perpustakaan-perpustakaan lama,
dibawa ke Irak (pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah–Red) untuk diterjemahkan
dan sejumlah perpustakaan baru didirikan. Gerakan penerjemahan ini berlangsung
dari tahun 750-850 M.
Kedua,
karya-karya yang diterjemahkan itu kemudian diberi komentar oleh para sarjana
Islam. Teori-teori yang ada diberi penjelasan dan disesuaikan dengan ajaran
Islam. Melalui renungan, pengamatan, penelitian, dan eksperimen (percobaan),
para tokoh Muslim dapat melahirkan teori-teori dan konsep-konsep baru. Dari
kegiatan ini, mereka menghasilkan ribuan karya tulis dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan.
Ketiga,
didirikan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi,
seperti Baitul Hikmah (perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu
pengetahuan dan peradaban terbesar pada masa itu). Selain itu, masjid-masjid, istana, dan
rumah para sarjana difungsikan sebagai tempat belajar.[2]
Pada permulaan
masa Abbasiah ini,
bangsa Persia sangat
berpengaruh dalam negara Islam sehingga kebudayaan Islampun dipengaruhi.
Setelah hilang pengaruh Persia, lahirlah pengaruh Turki. Masa inilah berdiri
madrasah-madrasah yang tidak sedikit bilangannya di seluruh negara Islam. Di
antara sebab-sebab banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:
1.
Mengambil Hati Rakyat
Pembesar-pembesar
Turki yang berkuasa dalam negara terutama dalam masalah ketentraman, mereka
bukanlah bangsa Arab dan bukan keturunan Nabi
muhammad Saw. Oleh karena itu mereka harus mengambil hati rakyat dengan
jalan memajukan Agama dan mementingkan pendidikan dan pengajaran. Bahkan
kadang-kadang setengah mereka kawin dengan anak gadis khalifah.
Banyak
tokoh mendirikan madrasah-madrasah di negara Islam. Dengan demikian,
tersebarlah madrasah-madrasah di negara Islam pada masa pengaruh dan kekuasaan
Turki. Mereka memberikan uang belanja yang besar sekali untuk madrasah-madrasah
tersebut.
2.
Mengharapkan Pahala dan Ampunan
daripada Tuhan
Masa
ini para pembesar dan sultan hidup dalam kemewahan yang berlebih. Oleh sebab
itu. Mereka beramal menyiarkan agama dengan mengadakan madrasah-madrasah untuk
memberikan pendidikan dan pengajaran kepada seluruh rakyat. Harapannya semoga
akan mendapatkan keridoan dan ampunan dari Allah SWT.
3.
Memelihara Kehidupan Anaknya
Kemudian Hari
Pembesar-pembesar
Turki yang menjadi wali satu wilayah telah menjadi kaya raya dengan hasil bumi
dan kekayaan yang dipungutnya dalam wilayahnya. Mereka khawatir kalau mereka
mati harta kekayan mereka akan diambil oleh sultan sehingga anak-anak mereka
hidup terlantar. Oleh karenanya, mereka mewakafkan tanah atau rumah-rumah
kepunyaan mereka. Adapun syarat wakaf diantaranya yaitu: pengurus wakaf adalah
anak mereka sendiri turun temurun sampai cucu-cucunya dengan mendapatkan bagian
tertentu dari wakaf tersebut.
4.
Memperkuat Aliran Keagaman bagi
Sultan atau Pembesar
Masa
ini tersebar anti agama dan banyak perselisihan antara aliran-aliran agama
terutama Syiah dan Sunni.[3] Agar kekuasaan mereka tetap bertahan tentunya harus
ditopang oleh ideologi yang dianut oleh pemerintah. Oleh karena itu
didirikanlah madrasah-madrasah sebagai alat propaganda dan indoktrinasi ideologi
di dalam wilayah-wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Turki Saljuq ini.
Dari uraian di atas tampak sekali bahwa pendirian
madrasah pada dinasti Saljuq ini sangat sarat dengan kepentingan pemerintah
atau penguasa. Kepentingan politis-ideologis penguasa tampaknya sangat dominan
di samping kepentingan kependidikan agama dan kepentingan pribadi para penguasa
saat itu. Sednagkan mengapa Nizam al-Mulk lebih memilih madrasah dari pada
institusi lainnya (masjid) tujuan-tujuan politis –ideologis di atas? Mengutip
pendapat Goerge Makdisi dari buku Sejarah
Sosial Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa: “... The answer, it seems to me, is that the madrasa alone, already in
existence as an institution, could answer his particular need. He founded his
network of Madrasa to implement his political-ideologis throughout the vast
lands of the empire under his sway. The institution which could best lend
itself to such use had to be one which could be established without ties of an
official religious nature such us to bring it under the jurisdiction of the
Caliph, as in the jami’ where the Caliph was the final appointing authority or
in the masjid where imam was responsible to the Caliph or even in a madrasa
whose administrative committee represented the community of the local school of
law. To manipulate a catheral mosque or a mosque-college was out of the
question. Therefore the institution Nizam choose as an instrument of his
policies was one whose administration
could be kept outside the reach of the Caliph’s authority, an authority which
had its place the public opinion of times”.[4]
B. Madrasah
Nizamiyah
Ada
beberapa sumber menyebutkan sebelum berdirinya Madrasah
Nizamiyah di Baghdad, paling tidak ada empat madrasah besar di Nishapur, yaitu
Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Assa’diyyah yang dibangun oleh Amir Nasr bin
Subuktakin, Madrasah Abu Sa’ad al-Astarabadi dan Madrasah yang didirikan untuk
Abu Ishaq al-Isfarayini.[5] Akan tetapi Lembaga pendidikan Islam
yang pertama menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal
sekarang adalah madrasah-madrasah Nizamiyah tersebut.[6]
Madrasah
Nizamiyah didirikan oleh Nizam al-Mulk. Sekedar memberikan tambahan pengetahuan mengenai
latar belakang Nizam al-Mulk. Nizam al-Mulk adalah seorang wasir (perdana
menteri) dinasti Seljuk pada masa pemerintahan sultan Alp Arslan (w. 1072M) dan
Malikiksyah (1072-1092M).[7]
Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Qiniq dalam
masyarakat Turki Oquz.[8]
Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq at-Tusi. Ia pernah
menuntut ilmu pada Hibatullah al-Muwaffaq, seorang ulama Syafi’i di Nisabur.
Beliaupun berpaham Asy’ariyah.[9]
Kemudian,
selain alasan-alasan yang melatar belakangi berdirinya madrasah yang telah ada
di atas, perlu diketahui bahwa latar belakang berdirinya madrasah Nizamiyah
yang paling mendasar dalam literatur sejarah peradaban Islam adalah adanya
perseteruan antara kelompok sunni;
dinasti Saljuq dengan kelompok Syi’ah; dinasti Fatimiah di mesir. Dinasti
Saljuq berkeyakinan bahwa ideologi harus dilawan dengan ideologi. Karenanya
institusi madrasah merupakan senjata atau alat dalam menamakan doktrin-doktrin sunni sebagai bentuk perlawanan paham Syi’ah.[10]
Madrasah
Nizamiyah ini termashur seluruh dunia.
Pada tiap-tiap kota Nizam Al-Mulk mendirikan
satu madrasah yang besar, diantaranya: di Baghdad, Balkh, Naisabur,
Harat, Ashfahan, Basran, Marw, Mausul. Tetapi madrasah Nizamiyah Bagdad adalah
yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu.[11]
Madrasah
Nizamiah Bagdad terletak di dekat sungai Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah
di Bagdad. Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H.
Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi yaitu dikunjungi
oleh Ibnu Batutah. Mengutip dari bukunya Abuddin nata “Sejarah Pendidikan Islam”,
Ahmad Syalabi berkeyakinan bahwa pasar Al-Chaffafin yang terdapat di
Bagdad saat ini adalah tempat di mana Madrasah Nizamiyah dulunya berdiri.[12]
Tujuan
Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu ialah untuk memperkuat
pemerintahan Turki saljuq dan menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan. Sultan-sultan
Turki adalah dari golongan ahli Sunnah. Oleh karena itu, madrasah-madrasah
Nizamiyah ini menyokong Sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunnah ke seluruh
rakyat.
Menurut
ahli sejarah, anggaran belanja yang diberikan Nizam Al-Mulk untuk perbelanjaan
madrasah keseluruhan ialah 600.000 dinar tiap tahunnya. Madrasah Bagdad sendiri
anggarannya 60.000 dinar.[13]
C. Sistem
Pendidikan Madrasah Nizamiyah
1.
Tujuan Pendidikan Madrasah
Nizamiyah Bagdad
Tujuan
pendidikan madrasah
Nizamiyah tidak terlapas dari
tiga tujuan pokok, yaitu:
a. Mengkader
calon-calon ulama yang menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan
pemikiran Syi’ah
b. Menyediakan
guru-guru Sunni yang cakap untuk mengajarka mazhab Sunni dan menyebarkan ke
tempat-tempat lain
c. Membentuk
kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan,
memimpin kantornya khusus di bidang pendidikan dan managemen
Selain
itu, pendidikan juga ditujukan untuk membangun sistem madrasah yang baik dan
berprestasi serta membentuk calon-calon ulama dan birokrat yang mempunyai
wawasan.[14]
2.
Kurikulum dan Metode Pengajaran
madrasah Nizamiyah Bagdad
Motivasi
pendidikan madrasah Nizamiyah adalah pembinaan dan penyebaran paham Sunni guna
menghadapi paham Syi’ah. Maka, ilmu kalam diajarkan secara khusus dan intensif.
Harus diakui bahwa beberapa pengajar pada madrasah ini juga dikenal ahli dalam
ilmu kalam, contohnya: Imam Al-Harmain Abul Ma’ali Yusuf Al-Juwaini (wafat
1084M/478H) dan Abdul Hamid Al-Ghazali (wafat 1111M/505H).[15]
Mengutip
dari bukunya Abudin nata, Mahmud Yunus mengatakan bahwa kurikulum madrasah
Nizamiyah tidak diketahui dengan jelas. Akan tetapi dapat disimpulkan bahwa
materi-materi ilma syari’ah diajarkan di
sini sedangkan ilmu hikmah (filsafat) tidak diajarkan. Fakta lain yang
mendukung ialah:
a. Tidak
ada seorangpun diantara ahli sejarah mengatakan bahwa di antara materi
pelajaran terdapat ilmu-ilmu umum
b. Guru-guru
pengajar merupakan ulama syari’ah
c. Pendiri
madrasah ini bukan pembela ilmu filsafat
d. Zaman
berdirinya madrasah ini, zaman penindasan filsafat[16]
Pelajaran
di Madrasah ini juga mempelajari
Al-Quran dengan membaca, menghafal dan menulis, sastra Arab, sejarah Nabi Saw.
Pengajarannya
berjalan dengan cara para guru berdiri di depan kelas menyajikan materi kuliah.
Para siswa duduk mendengarkan di atas meja-meja kecil yang disediakan. Lalu
dilanjutkan diskusi. Sumber lain mengatakan bahwa pada materi fiqh, mahasiswa
menyalin silabus (ta’liqah) dalam proses dikte. Mereka hanya betul-betul
menyalin dengan sangat sedikit perubahan.
3.
Tenaga Pengajar dan Pelajar Madrasah Nizamiyah
Bagdad
Guru-guru
dan ulama-ulama yang termashur serta memiliki kompetensi di bidangnya dipilih
untuk mengajar di madrasah ini. Pengajar selalu dibantu seorang pembantu.
Pembantu berfungsi sebagai asisten guru. Tugasnya menjelaskan bagian-bagian
yang sulit dipahami setelah guru memberikan kuliah.[17] Status dosen ditekan pengangkatan dari khalifah dan
bertugas dengan masa tertentu.[18]
Nizam
juga menyediakan beasiswa dan memberi
fasilitas asrama. Mereka yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya. Ia
memberikan bantuan kepada pelajar tanpa mengharap
kembali.
4.
Pendanaan dan Sarana Madrasah
Nizamiyah
Dalam
pembangunan madrasah, Nizam menyediakan dana wakaf untuk membiayai mudarris,
imam dan mahasiswa yang menerima beasiswa. Dengan dana itu, ia menddirikan
madrasah-madrasah Nizamiyah hampir seluruh wilayah kekuasaan bani Saljuk. Ia
mendirikan perpustakaan dengan kurang lebih 6.000 jilid buku lengkap dengan
katalognya.[19]
D. Pengaruh
Madrasah Nizamyiah
Madrasah
Nizamiyah sedikit demi sedikit mengalami kemunduran setelah wafatnya Nizam
al-Mulk. Madrasah yang sistem pendidikan dan organisasinya ditiru di Eropa ini
sempat berjaya sampai akhir abad ke-14, ketika Timur Lenk menghancurkan
Baghdad. Timur
lenk dengan bala tentaranya menyerbu kota Baghdad dan menghancurkan segala
peradaban serta membantai ribuan orang di wilayah yang ditaklukkannya. Baghdad
hancur lebur sekitar tahun 1393 M.[20] Meskipun deskipun demikian, banyak pengaruh
yang ada sejak berdirinya madrasah Nizamiah. Pengaruh tersebut di antaranya:
1. Dari Nizam Al-Mulk sebagai pejabat
pemerintahan yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah,
kedudukan dan kepentingannya dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang sangat
menentukan.
2.
Dari segi ekonomi, madrasah ini
ada dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hukum dan
administrasi.
4.
Kekuatan madrasah
Nizamiyah adalah pengakuan negara. Madrasah ini telah mencatat nama besar dan
orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar.
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Latar belakang
banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:mengambil
hati rakyat, mengharapkan pahala dan ampunan daripada Tuhan, memelihara
kehidupan anaknya kemudian hari, memperkuat aliran keagaman bagi sultan atau pembesar
2.
Madrasah Nizamiyah didirikan
oleh Nizam al-Mulk. Madrasah Nizamiyah ini termashur seluruh dunia. Madrasah Nizamiyah Bagdad adalah
yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu. Madrasah Nizamiah Bagdad
terletak di dekat sungai Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah di Bagdad.
Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H. Madrasah ini
tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi yaitu dikunjungi oleh Ibnu
Batutah.
3.
Sistem pendidikan di Madrasah
Nizamiyah secara sederhana memiliki komponen sebagai berikut: tujuan pendidikan madrasah Nizamiyah, kurikulum dan Metode Pengajaran
madrasah Nizamiyah Bagdad, tenaga pengajar
dan pelajar Madrasah Nizamiyah
Bagdad, pendanaan dan sarana Madrasah Nizamiyah
4.
Pengaruh tersebut di
antaranya: Nizam Al-Mulk sebagai pejabat pemerintahan yang
memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah, madrasah
ini untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hukum dan administrasi, madrasah ini diterima
masyarakat, madrasah ini telah mencatat nama
besar dan orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar
[2] _____,
Madrasah Nizamiah, Sejarah dan
Perkembangannya dalam http://mazguru.wordpress.com/2009/03/30/madrasah-nizamiyah-sejarah-dan-perkembangannya/,
diakses 20 Juni 2011
[3] Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi S.A.W Khalifah-Khalifah Rasyidin,
Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai Zaman Mamluks dan Usmaniyah Turki,
(Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), 69-72
[5] Abdurrahman Mas’ud, Menggagas
Format Pendidikan Nondikotomik, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), 101
[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,
Ensiklopedi Islam jilid 4, cetakan ke-10,
(Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 44-45
[8] G. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti, Judul Asli: The Islamic Dinasties, Penerj:Ilyas
Hasan, (Menchester: Mizan, 1993), cet. Ke-1, 142
[9] Nina M. Armando (ed. Bahasa), Ensiklopedia Islam , (Jakarta: Icthiar
Baru van Hoeve, 2005), 222
[12] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan,
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 62
[14] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi
Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 742
[16] Samsul Nizar, Sejarah PendidikaN Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era
Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2008), 160-161