Selasa, 14 Februari 2012

KURIKULUM DAN SISWA

Kurikulum dan Siswa

Review yang memiliki tema “Kurikulum dan Siswa” ini terdapat pada buku 0 yang berjudul “Learning to Change: ICT in School” dengan penerbit ORGANISATION FOR ECONOMIC CO-OPERATION AND DEVELOPMENT, 2001. Tepatnya pada bab 2 halaman 19-36. Pada bab 2 ini akan dibahas oleh dua penyaji. Saya selaku penyaji bab ini membahas bab 2 bagian awal yaitu dimulai dari halaman 19-28. Halaman ini memilki 3 sub bahasan yang meliputi:

a. Pendekatan Kebijakan terhadap TIK dalam Kurikulum

b. TIK Membawa Kedalaman Baru untuk Belajar

c. Belajar Dipusatkan pada Siswa

Demikian sekilas deskripsi pembahasan bab Kurikulum dan Siswa yang dapat saya paparkan secara ringkas. Untuk lebih detailnya mari kita kita simak pemaparan di bawah ini.

Kurikulum dan Siswa

Ada kata komputer tentu mengingatkan pada teknologi informatika dan komunikasi yang sering disingkat dengan TIK. Teknologi ini memberikan dampak besar kepada manusia. Teknologi ini kaya informasi yang ada di seluruh dunia. Kita tinggal mengakses informasi yang diperlukan.

Dikaitkan dalam pembelajaran maka TIK memberikan keuntungan besar pada dunia pendidikan. TIK memberikan warna baru yang lebih kreatif menarik dan memudahkan siswa untuk belajar. Selain itu, dengan belajar TIK siswa akan memiliki keahlian tentang komputer. Ini dapat digunakan untuk bekal mereka menghadapi dunia kerja yang kini komputerisasi memang menjadi kebutuhan pokok. Oleh karenanya, kurikulum dalam pembelajaran diperlukan untk menciptakan kurikulum yang menarik dan siap mencetak out put berkualitas dan berkompeten dalam TIK.

A. Pendekatan Kebijakan terhadap TIK dalam Kurikulum

Banyak pemerintah yang telah mengadopsi dan memperkenalkan TIK ke dalam kurikulum pembelajarannya. Misalnya saja pada bulan April 1999, Negara Australia/Wilayah dan Persemakmuran Menteri Pendidikan diidentifikasi keakraban dan kompetensi dengan TIK sebagai salah satu tujuan pusat pendidikan untuk abad 21. Abad 21, Pemerintah AS memiliki berbagai kebijakan pendidikan untuk penggunaan TIK. Pengakuannya bahwaTIK menawarkan pengalaman siswa-siswa tersedia dimanapun. Di ikuti Uni Europa telah memulai rencana 2002 Eropa. Bulan Juni 2000 Dewan Eropa meminta (Deklarasi Lisbon) bahwa:

1. Setiap warganegara dilengkapi dengan keterampilan yang dibutuhan untuk bekerja di masyarakat informasi baru.

2. Anggota menyatakan memastikan bahwa semua sekolah di Union memiliki akses Internet dan sumber multimedia akhir tahun 2001.

3. Anggota menyatakan memastikan semua guru memiliki ketrampilan dalam menggunakan internet dan sumber multimedia di akhir tahun 2002.

4. Sekolah dengan progresif dihubungkan dengan jaringan yang sangat cepat untuk komunikasi ilmiah elektronik yang akan dibuat pada akhir 2001.

5. Pendidikan Eropa dan sistem pelatihan harus beradaptasi dengan pengetahuan masyarakat.

Berbagai pengaturan sekarang di tempat di negara-negara OECD untuk mempromosikan TIK di sekolah. Misalnya Portugal.humaniora, Kanada , dan dengan bagian yang cepat mendirikan ketertarikan yang kuat dengan TIK, terutama teknologi desain dan pelajaran bisnis. Prancis mulai menggunakan pendidikan TIK dengan subjek ilmiah dan dengan laboratorium bahasa, tetapi dalam sejalan dengan perkembangan kurikulum nasional, pertumbuhan sekarang di semua subjek dan tingkat. Di Belanda, TIK diperkenalkan sebagai subjek dalam sendiri dan kemudian digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran. Secara umum kurikulum melalui adopsi TIK, mendorong oleh studi menunjukkan belajar signifikan yang terkait dengan penggunaannya.

Dari penjabaran di atas kemungkinan akan ada permasalahan di dalam keamanan secara kontinuitas dengan TIK di fase yang berbeda dari pendidikan, terutama dari primer ke sekunder. Namun, kemampuan dasar TIK akan didapatkan pada tingkat dasar dan tersedia untuk digunakan dan pembangunan selanjutnya.

· Banyak pemerintah mengadopsi program utama untuk promosi menggunakan TIK di semua aspek kehidupan sekolah. Ini adalah respon menembus di kehidupan ekonomi dan sosial, dan untuk mendapatkan keuntungan dari potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan kompetensi permintaan yang lebih tinggi. Ini masih perlu bertanya seberapa jauh realisasi untuk praktek pendidikan sesuai ambisi tujuan.

· Penggunaan khusus TIK dalam pendidikan sering mulai dalam bidang mata pelajaran tertentu, termasuk informatika secara umum sekarang TIK adopsi di semua bagian kurikulum.

· Integrasi TIK pada kurikulum tidak bertentangan dengan informatika sebagai pilihan untuk beberapa, dan sesekali tambahan rangkaian untuk bisa digital untuk semua.

B. TIK Membawa Kedalaman Baru untuk Belajar

TIK memberikan keuntungan belajar siswa. Dalam pengalaman belajarnya, siswa menggunakan peralatan-peralatan TIK pada sebagian besar mata pelajaran. CD room digunakan dalam pembelajarannya dengan berbagai macam kapasitas dan ini membuat siswa sangat tertarik.

CD Room mudah dibawa dan memungkin siswa bisa dengan banyak membawa CD daripada harus membawa buku dengan beban yang lebih berat. Karena CD bisa memuat informasi dalam kapasitas yang besar dan lebih mudah daripada buku.

Penjelasan yang memberikan gambaran dari sebagian mata pelajaran untuk belajar. Siswa akan terasaa lebih nyata membawa sebuah sejarah, diperlihatkan cuplikan-cuplikan, film-film nasional termasuk percakapan, animasi simulasi barisan dan perang dan mengunjungi situs purbakala. Ini memberikan cara mudah untuk belajar dan tidak membuat siswa bosan untuk belajar. Pada Geografi pendekatan multimedia dengan atlas dunia memberikan pemahaman yang lebih baik dari situasi politik. Dalam ilmu pengetahuan dan matematika, siswa mendapatkan keuntungan dalam menggambarkan dasar konsep fisik dengan animasi, dan melakukan eksperimen mengeksplorasi hukum. Ini menambahkan daya tarik, dan membuat lingkungan kelas menyenangkan di mana siswa dapat bekerjasama. Namun, dengan menggunakan CD Room tidak semuanya memberikan keuntungan. Misalnya, kesulitan menemukan penggunaannya pada CD ROOM, presentasi tidak jelas, komputer yang kurang memadai juga dapat menghambat pembelajaran.

Meskipun demikian, secara umum pembelajaran berbasis TIK ini memberikan gambaran sebagia berikut:

· TIK berbasis bahan pembelajaran jauh cakupan subjek, kesesuaian
urutan pembelajaran dan user, tetapi sangat disukai oleh siswa.

· Ketika TIK hanya media pengiriman alternatif , siswa mendapatkan keuntungan dengan kenyamanan, kecepatan, kapasitas, motivasi dan daya tarik.

· TIK dapat melayani tujuan pendidikan sangat berbeda dan methodologi, beberapa memberikan kelebihan pada kurikulum tradisional. Digunakan secara bijak itu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, bahasa dan komunikasi, pembelajaran kolaborasi, pemahaman dan tanggapan bagi orang lain.

C. Belajar Dipusatkan pada Siswa

Gagasan pendekatan konstruktivisme adalah siswa membangun pemahaman mereka sendiri, dari membangun pengalaman sebelumnya. Dengan kata lainnya pemahaman siswa muncul melalui keterlibatan panjang berhubungan ide-ide baru, kerja kelompok, pemecahan masalaha dan penjelasan keyakinan yang telah dimilik mereka sebelumnya. Model pembelajaran ini sangat sesuai dengan menggunakan TIK baik untuk meningkatkan pemahaman, dan mendukung pengembangan keterampilan berpikir.

Pengembangan pembelajaran konstruktivisme berbasis TIK kepada siswa, guru memiliki peran sebagai pemberi bimbingan kepada siswanya. Siswa juga harus berperan aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran kontruktivisme dengan penggunaan TIK ini bermanfaat secara maksimal.

Analisa Pembahasan

Dari hasil pemaparan di atas bahwa pesatnya kemajuan di era globalisasi ini maka siswa memerlukan kurikulum pendidikan yang mampu memberikan kebutuhan yang diperlukan oleh siswa. Kurikulum yang dapat diaplikasikan untuk dunia kerja sehingga siswa memiliki keahlian dan ketrampilan yang bisa siap pakai. Ketrampilan tersebut salah satunya merupakan teknologi informatika dan komunikasi (TIK). TIK mampu memberikan pelayanan mudah, cepat dan menarik untuk memenuhi kebutuhan siswa. Siswa dapat belajar mandiri dan memiliki motivasi yang besar untuk belajar. Salah satu contoh mamfaat penggunaan TIK berupa alat bantu audiovisual dalam pembelajaran yaitu:

1. Membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar.

2. Mendorong minat.

3. Meningkatkan pengertian yang lebih baik

4. Melengkapi sumber balajar yang lain.

5. Menambah variasi mengajar.

6. Menghemat waktu.

7. Meningkatkan intelektual.

8. Ingatan tentang pelajaran lebih lama.

9. Memberikan konsep baru dari sesuatu di luar pengalaman biasa.[1]

TIK menjadikan berbagai produk baru di bidang teknologi informasi yang makin berkemampuan memudahkan proses komunikasi melalui berbagai dimensi suara, tulisan dan gambar serta menjadikan informasi menyebar semakin cepat. Berjangkauan makin luas dan murah. Di dunia pendidikan kemudahan menyampaikan dan mendapatkan informasi akan mampu meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini memberikan keefektifan, efisiensi dan menarik untuk tujuan pembelajarn dan karakteristik siswa.

Dampak lain yang dikutip dari bukunya Munardji, Parapak menyatakan bahwa pemanfaatan TIK di masa datang adalah meningkatnya globalisasi dan saling ketergantungan baik nasional maupun internasional. Globalisasi tersebut menyangkut segala segi dan untuk mampu bersaing tentu dibutuhkan manusia berkualitas, inisiatif, pekerja keras dan produktif.[2] Oleh karenanya berbagai negara telah menerapkan kurikulum baru. Kurikulum terpusat pada siswa berbasis TIK. Kurikulum ini mampu memberikan siswa aktif, kreatif, inovatif untuk menciptakan karya-karya baru dan memacu semangat belajar siswa dalam dunia pendidikan.



[1] Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa:Dari Teori hingga Aplikasi, (Jakarta:Bumi Aksara, 2007), 173

[2] Munardji dan Aus Purwawidodo, Desain Teknologi Instruksional sebagai Landasan Perencanaan dan Penyusunan Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Tulungagung:STAIN Tulungagung, Press, 2008), 12

Selasa, 17 Januari 2012

Madrasah Nizhamiah



A.     Latar Belakang Masalah
Madrasah diartikan sebagai tempat belajar bagi siswa atau mahasiswa (umat Islam). Istilah madrasah tidak hanya diartikan sekolah dalam arti sempit akan tetapi bisa dimaknai rumah, istana, kuttab, perpustakaan, surau, masjid dalain sebagainya. Makna madrasah dalam sejarah pendidikan Islam memiliki peran penting sebagai institusi belajar umat Islam selama pertumbuhan dan perkembangannya sebab pemakaian kata madrasah secara definisi baru muncul pada abad 11M.[1] Ini bertepatan dengan berdirinya madrasah Nizamiah yang menurut banyak ahli meskipun tidak semuanya tetapi sebagian besar yang mangatakan bahwa madrasah ini sebagai madrasah pertama yang berdiri pada masa Islam.
Adanya madrasah ini memberikan pengetahuan besar tentang bagaimana penerapan administrasi, kurikulum dan guru serta sistem-sistem yanng lainnya pada pendidikan Islam pada masa dahulu khususnya pada madrasah yang beraliran sunni karena pada masa ini penerapan sistem-sistem di atas telah ada dengan tersusun secara baik.
Oleh karenanya, dengan keunikan-keunikan yang ada di madrasah pada masa lampau, penulis tertarik mengintip kembali pembahasan tentang “Madrasah Nizamiah”. Pembahasan ini akan dapat memberikan pengertian baru tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan madrasah pada jaman Islam dahulu khususnya pada madrasah Nizamiah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah latar belakang berdirinya madrasah?
2.      Bagaimana sejarah pertumbuhan madrasah Nizamiyah?
3.      Bagaimana penerapan sistem madrasah Nizamiyah?
4.      Bagaimana pengaruh adanya madrasah Nizamiyah terhadap sosial kemasyarakatan?

C.     Tujuan Masalah
Agar mahasiswa paham mengenai:
1.      Latar belakang berdirinya madrasah.
2.      Sejarah pertumbuhan madrasah Nizamiyah
3.      Penerapan sistem dalam madrasah Nizamiyah
4.      Pengaruh adanya madrasah Nizamiyah terhadap sosial kemasyarakatan


A.     Latar Belakang Berdirinya Madrasah
Pada pertengahan abad kedelapan Masehi atau abad kedua Hijriyah, merupakan masa-masa keemasan Islam (The Golden Ages of Islam). Kondisi ini berlangsung pada masa kekhalifahan Islam di bawah kekuasaan dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M). Saat itu, dua per tiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Selain itu, tradisi keilmuan berkembang pesat. Berbagai sumber menyebutkan, masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid. Dia adalah khalifah Dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada 786 M hingga 809 M.
Salah satu puncak pencapaian yang membuat nama Khalifah Harun al-Rasyid melegenda adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada masa kepemimpinannya, terjadi penerjemahan sejumlah karya dari berbagai bahasa. Inilah yang menjadi titik awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada era itu pula, beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban mulai berkembang. Perkembangan tersebut berkat dorongan pemerintah saat itu yang menyediakan berbagai fasilitas dan memberikan kebebasan intelektual para siswanya.
Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa itu dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, dilakukan penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, Suriah, dan India ke dalam bahasa Arab. Ribuan buku yang diambil dari perpustakaan-perpustakaan lama, dibawa ke Irak (pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah–Red) untuk diterjemahkan dan sejumlah perpustakaan baru didirikan. Gerakan penerjemahan ini berlangsung dari tahun 750-850 M.
Kedua, karya-karya yang diterjemahkan itu kemudian diberi komentar oleh para sarjana Islam. Teori-teori yang ada diberi penjelasan dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Melalui renungan, pengamatan, penelitian, dan eksperimen (percobaan), para tokoh Muslim dapat melahirkan teori-teori dan konsep-konsep baru. Dari kegiatan ini, mereka menghasilkan ribuan karya tulis dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Ketiga, didirikan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi, seperti Baitul Hikmah (perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masa itu). Selain itu, masjid-masjid, istana, dan rumah para sarjana difungsikan sebagai tempat belajar.[2]
Pada permulaan masa Abbasiah ini, bangsa Persia sangat berpengaruh dalam negara Islam sehingga kebudayaan Islampun dipengaruhi. Setelah hilang pengaruh Persia, lahirlah pengaruh Turki. Masa inilah berdiri madrasah-madrasah yang tidak sedikit bilangannya di seluruh negara Islam. Di antara sebab-sebab banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:
1.      Mengambil Hati Rakyat
Pembesar-pembesar Turki yang berkuasa dalam negara terutama dalam masalah ketentraman, mereka bukanlah bangsa Arab dan bukan keturunan Nabi  muhammad Saw. Oleh karena itu mereka harus mengambil hati rakyat dengan jalan memajukan Agama dan mementingkan pendidikan dan pengajaran. Bahkan kadang-kadang setengah mereka kawin dengan anak gadis khalifah.
Banyak tokoh mendirikan madrasah-madrasah di negara Islam. Dengan demikian, tersebarlah madrasah-madrasah di negara Islam pada masa pengaruh dan kekuasaan Turki. Mereka memberikan uang belanja yang besar sekali untuk madrasah-madrasah tersebut.
2.      Mengharapkan Pahala dan Ampunan daripada Tuhan
Masa ini para pembesar dan sultan hidup dalam kemewahan yang berlebih. Oleh sebab itu. Mereka beramal menyiarkan agama dengan mengadakan madrasah-madrasah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada seluruh rakyat. Harapannya semoga akan mendapatkan keridoan dan ampunan dari Allah SWT.
3.      Memelihara Kehidupan Anaknya Kemudian Hari
Pembesar-pembesar Turki yang menjadi wali satu wilayah telah menjadi kaya raya dengan hasil bumi dan kekayaan yang dipungutnya dalam wilayahnya. Mereka khawatir kalau mereka mati harta kekayan mereka akan diambil oleh sultan sehingga anak-anak mereka hidup terlantar. Oleh karenanya, mereka mewakafkan tanah atau rumah-rumah kepunyaan mereka. Adapun syarat wakaf diantaranya yaitu: pengurus wakaf adalah anak mereka sendiri turun temurun sampai cucu-cucunya dengan mendapatkan bagian tertentu dari wakaf tersebut.
4.      Memperkuat Aliran Keagaman bagi Sultan atau Pembesar
Masa ini tersebar anti agama dan banyak perselisihan antara aliran-aliran agama terutama Syiah dan Sunni.[3] Agar kekuasaan mereka tetap bertahan tentunya harus ditopang oleh ideologi yang dianut oleh pemerintah. Oleh karena itu didirikanlah madrasah-madrasah sebagai alat propaganda dan indoktrinasi ideologi di dalam wilayah-wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Turki Saljuq ini.
Dari uraian di atas tampak sekali bahwa pendirian madrasah pada dinasti Saljuq ini sangat sarat dengan kepentingan pemerintah atau penguasa. Kepentingan politis-ideologis penguasa tampaknya sangat dominan di samping kepentingan kependidikan agama dan kepentingan pribadi para penguasa saat itu. Sednagkan mengapa Nizam al-Mulk lebih memilih madrasah dari pada institusi lainnya (masjid) tujuan-tujuan politis –ideologis di atas? Mengutip pendapat Goerge Makdisi dari buku Sejarah  Sosial Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa: “... The answer, it seems to me, is that the madrasa alone, already in existence as an institution, could answer his particular need. He founded his network of Madrasa to implement his political-ideologis throughout the vast lands of the empire under his sway. The institution which could best lend itself to such use had to be one which could be established without ties of an official religious nature such us to bring it under the jurisdiction of the Caliph, as in the jami’ where the Caliph was the final appointing authority or in the masjid where imam was responsible to the Caliph or even in a madrasa whose administrative committee represented the community of the local school of law. To manipulate a catheral mosque or a mosque-college was out of the question. Therefore the institution Nizam choose as an instrument of his policies  was one whose administration could be kept outside the reach of the Caliph’s authority, an authority which had its place the public opinion of times”.[4]

B.     Madrasah Nizamiyah
Ada beberapa sumber menyebutkan sebelum berdirinya Madrasah Nizamiyah di Baghdad, paling tidak ada empat madrasah besar di Nishapur, yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Assa’diyyah yang dibangun oleh Amir Nasr bin Subuktakin, Madrasah Abu Sa’ad al-Astarabadi dan Madrasah yang didirikan untuk Abu Ishaq al-Isfarayini.[5] Akan tetapi Lembaga pendidikan Islam yang pertama menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang adalah madrasah-madrasah Nizamiyah tersebut.[6]
Madrasah Nizamiyah didirikan oleh Nizam al-Mulk. Sekedar memberikan tambahan pengetahuan mengenai latar belakang Nizam al-Mulk. Nizam al-Mulk adalah seorang wasir (perdana menteri) dinasti Seljuk pada masa pemerintahan sultan Alp Arslan (w. 1072M) dan Malikiksyah (1072-1092M).[7] Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Qiniq dalam masyarakat Turki Oquz.[8] Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq at-Tusi. Ia pernah menuntut ilmu pada Hibatullah al-Muwaffaq, seorang ulama Syafi’i di Nisabur. Beliaupun berpaham Asy’ariyah.[9]
Kemudian, selain alasan-alasan yang melatar belakangi berdirinya madrasah yang telah ada di atas, perlu diketahui bahwa latar belakang berdirinya madrasah Nizamiyah yang paling mendasar dalam literatur sejarah peradaban Islam adalah adanya perseteruan antara kelompok sunni; dinasti Saljuq dengan kelompok Syi’ah; dinasti Fatimiah di mesir. Dinasti Saljuq berkeyakinan bahwa ideologi harus dilawan dengan ideologi. Karenanya institusi madrasah merupakan senjata atau alat dalam menamakan doktrin-doktrin sunni sebagai bentuk perlawanan paham Syi’ah.[10]
Madrasah Nizamiyah ini termashur seluruh dunia. Pada tiap-tiap kota Nizam Al-Mulk mendirikan  satu madrasah yang besar, diantaranya: di Baghdad, Balkh, Naisabur, Harat, Ashfahan, Basran, Marw, Mausul. Tetapi madrasah Nizamiyah Bagdad adalah yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu.[11]
Madrasah Nizamiah Bagdad terletak di dekat sungai Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah di Bagdad. Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H. Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi yaitu dikunjungi oleh Ibnu Batutah. Mengutip dari bukunya Abuddin nata “Sejarah Pendidikan Islam”, Ahmad Syalabi berkeyakinan bahwa pasar Al-Chaffafin yang terdapat di Bagdad saat ini adalah tempat di mana Madrasah Nizamiyah dulunya berdiri.[12]
Tujuan Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu ialah untuk memperkuat pemerintahan Turki saljuq dan menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan. Sultan-sultan Turki adalah dari golongan ahli Sunnah. Oleh karena itu, madrasah-madrasah Nizamiyah ini menyokong Sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunnah ke seluruh rakyat.
Menurut ahli sejarah, anggaran belanja yang diberikan Nizam Al-Mulk untuk perbelanjaan madrasah keseluruhan ialah 600.000 dinar tiap tahunnya. Madrasah Bagdad sendiri anggarannya 60.000 dinar.[13]

C.     Sistem Pendidikan Madrasah Nizamiyah
Sistem pendidikan di Madrasah Nizamiyah secara sederhana memiliki komponen sebagai berikut:
1.      Tujuan Pendidikan Madrasah Nizamiyah Bagdad
Tujuan pendidikan madrasah Nizamiyah tidak terlapas dari tiga tujuan pokok, yaitu:
a.       Mengkader calon-calon ulama yang menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi’ah
b.      Menyediakan guru-guru Sunni yang cakap untuk mengajarka mazhab Sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain
c.       Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya khusus di bidang pendidikan dan managemen
Selain itu, pendidikan juga ditujukan untuk membangun sistem madrasah yang baik dan berprestasi serta membentuk calon-calon ulama dan birokrat yang mempunyai wawasan.[14]
2.      Kurikulum dan Metode Pengajaran madrasah Nizamiyah Bagdad
Motivasi pendidikan madrasah Nizamiyah adalah pembinaan dan penyebaran paham Sunni guna menghadapi paham Syi’ah. Maka, ilmu kalam diajarkan secara khusus dan intensif. Harus diakui bahwa beberapa pengajar pada madrasah ini juga dikenal ahli dalam ilmu kalam, contohnya: Imam Al-Harmain Abul Ma’ali Yusuf Al-Juwaini (wafat 1084M/478H) dan Abdul Hamid Al-Ghazali (wafat 1111M/505H).[15]
Mengutip dari bukunya Abudin nata, Mahmud Yunus mengatakan bahwa kurikulum madrasah Nizamiyah tidak diketahui dengan jelas. Akan tetapi dapat disimpulkan bahwa materi-materi ilma syari’ah diajarkan  di sini sedangkan ilmu hikmah (filsafat) tidak diajarkan. Fakta lain yang mendukung ialah:
a.       Tidak ada seorangpun diantara ahli sejarah mengatakan bahwa di antara materi pelajaran terdapat ilmu-ilmu umum
b.      Guru-guru pengajar merupakan ulama syari’ah
c.       Pendiri madrasah ini bukan pembela ilmu filsafat
d.      Zaman berdirinya madrasah ini, zaman penindasan filsafat[16]
Pelajaran di Madrasah ini juga mempelajari Al-Quran dengan membaca, menghafal dan menulis, sastra Arab, sejarah Nabi Saw.
Pengajarannya berjalan dengan cara para guru berdiri di depan kelas menyajikan materi kuliah. Para siswa duduk mendengarkan di atas meja-meja kecil yang disediakan. Lalu dilanjutkan diskusi. Sumber lain mengatakan bahwa pada materi fiqh, mahasiswa menyalin silabus (ta’liqah) dalam proses dikte. Mereka hanya betul-betul menyalin dengan sangat sedikit perubahan.
3.      Tenaga  Pengajar dan Pelajar Madrasah Nizamiyah Bagdad
Guru-guru dan ulama-ulama yang termashur serta memiliki kompetensi di bidangnya dipilih untuk mengajar di madrasah ini. Pengajar selalu dibantu seorang pembantu. Pembantu berfungsi sebagai asisten guru. Tugasnya menjelaskan bagian-bagian yang sulit dipahami setelah guru memberikan kuliah.[17] Status dosen ditekan pengangkatan dari khalifah dan bertugas dengan masa tertentu.[18]
Nizam juga menyediakan beasiswa dan memberi fasilitas asrama. Mereka yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya. Ia memberikan bantuan kepada pelajar tanpa mengharap kembali.
4.      Pendanaan dan Sarana Madrasah Nizamiyah
Dalam pembangunan madrasah, Nizam menyediakan dana wakaf untuk membiayai mudarris, imam dan mahasiswa yang menerima beasiswa. Dengan dana itu, ia menddirikan madrasah-madrasah Nizamiyah hampir seluruh wilayah kekuasaan bani Saljuk. Ia mendirikan perpustakaan dengan kurang lebih 6.000 jilid buku lengkap dengan katalognya.[19]

D.    Pengaruh Madrasah Nizamyiah
Madrasah Nizamiyah sedikit demi sedikit mengalami kemunduran setelah wafatnya Nizam al-Mulk. Madrasah yang sistem pendidikan dan organisasinya ditiru di Eropa ini sempat berjaya sampai akhir abad ke-14, ketika Timur Lenk menghancurkan Baghdad. Timur lenk dengan bala tentaranya menyerbu kota Baghdad dan menghancurkan segala peradaban serta membantai ribuan orang di wilayah yang ditaklukkannya. Baghdad hancur lebur sekitar tahun 1393 M.[20]  Meskipun deskipun demikian, banyak pengaruh yang ada sejak berdirinya madrasah Nizamiah. Pengaruh tersebut di antaranya:
1.      Dari Nizam Al-Mulk sebagai pejabat pemerintahan yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah, kedudukan dan kepentingannya dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang sangat menentukan.
2.      Dari segi ekonomi, madrasah ini ada dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hukum dan administrasi.
3.      Dari segi sosial keagamaan, madrasah ini diterima masyarakat karena sesuai lingkungan.[21]
4.      Kekuatan madrasah Nizamiyah adalah pengakuan negara. Madrasah ini telah mencatat nama besar dan orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar.
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Latar belakang banyaknya berdiri madrasah tersebut yaitu:mengambil hati rakyat, mengharapkan pahala dan ampunan daripada Tuhan, memelihara kehidupan anaknya kemudian hari, memperkuat aliran keagaman bagi sultan atau pembesar
2.      Madrasah Nizamiyah didirikan oleh Nizam al-Mulk. Madrasah Nizamiyah ini termashur seluruh dunia. Madrasah Nizamiyah Bagdad adalah yang terbesar dan terpenting dari semua madrasah itu. Madrasah Nizamiah Bagdad terletak di dekat sungai Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah di Bagdad. Madrasah ini dibangun pada tahun 457H/1065M selesai tahun 459H. Madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi yaitu dikunjungi oleh Ibnu Batutah.
3.      Sistem pendidikan di Madrasah Nizamiyah secara sederhana memiliki komponen sebagai berikut: tujuan pendidikan madrasah Nizamiyah, kurikulum dan Metode Pengajaran madrasah Nizamiyah Bagdad, tenaga  pengajar dan pelajar Madrasah Nizamiyah Bagdad, pendanaan dan sarana Madrasah Nizamiyah
4.      Pengaruh tersebut di antaranya: Nizam Al-Mulk sebagai pejabat pemerintahan yang memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah, madrasah ini untuk mempersiapkan pegawai pemerintah khususnya di hukum dan administrasi, madrasah ini diterima masyarakat, madrasah ini telah mencatat nama besar dan orang yang mengabdi dirinya sebagai tenaga pengajar


[1] Suwito, Ed., Sejarah Sosial pendidikan Islam, (Jakarta; Kencana, 2005), 214
[2] _____, Madrasah Nizamiah, Sejarah dan Perkembangannya dalam http://mazguru.wordpress.com/2009/03/30/madrasah-nizamiyah-sejarah-dan-perkembangannya/, diakses 20 Juni 2011

[3] Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi S.A.W Khalifah-Khalifah Rasyidin, Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai Zaman Mamluks dan Usmaniyah Turki, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), 69-72
[4] Suwito, Ed., Sejarah Sosial pendidikan..., 153
[5] Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), 101
[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam jilid 4, cetakan ke-10, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 44-45               
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam III, (Jakarta:Grafindo Persada, 1993), 73
[8] G. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti, Judul Asli: The Islamic Dinasties, Penerj:Ilyas Hasan, (Menchester: Mizan, 1993), cet. Ke-1, 142
[9] ­­­Nina M. Armando (ed. Bahasa), Ensiklopedia Islam , (Jakarta: Icthiar Baru van Hoeve, 2005), 222
[10] Suwito, Ed., Sejarah Sosial pendidikan..., 217
[11] Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi.., 72
[12] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 62
[13] Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi.., 72-73
[14]  Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 742
[15] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 65
[16] Samsul Nizar, Sejarah PendidikaN Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2008), 160-161
[17] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 67
[18] Nina M. Armando (ed. Bahasa), Ensiklopedia.., 224
[19] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik..., 71
[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), 120
[21] Abuddin Nata, Sejarah..., 72
[22] Nina M. Armando (ed. Bahasa), Ensiklopedia.., 224